Daya beli menunjukkan seberapa banyak barang dan jasa yang bisa dibeli masyarakat dengan pendapatan yang dimiliki. Ketika uang belanja bulanan terasa makin cepat habis, masalahnya bukan selalu karena pengeluaran berlebihan.
Faktor Penyebab Turunnya Daya Beli Masyarakat mencakup harga yang naik, pendapatan yang tertinggal, pekerjaan yang tidak aman, serta cicilan yang menekan ruang belanja. Orang juga bisa sengaja menunda belanja karena khawatir kondisi ekonomi memburuk.
Masalah ini perlu dibaca sebagai rangkaian yang saling terkait, bukan sekadar soal harga cabai atau tarif listrik. Tekanan pada rumah tangga dapat bermula dari pasar kerja, kebijakan fiskal, nilai tukar, hingga kondisi keuangan keluarga sendiri.
Cara Memahami Penurunan Daya Beli Masyarakat

Jumlah uang di rekening tidak otomatis menunjukkan daya beli. Seseorang mungkin masih menerima gaji Rp5 juta per bulan, tetapi kemampuan belanjanya menurun jika harga makanan, transportasi, sewa, listrik, dan pulsa naik bersamaan.
Misalnya, pada awal tahun pengeluaran pokok sebuah keluarga mencapai Rp3 juta. Beberapa bulan kemudian, pengeluaran yang sama naik menjadi Rp3,5 juta. Jika penghasilan tidak bertambah, sisa uang untuk pendidikan, tabungan, rekreasi, atau kebutuhan mendadak akan menyusut.
Konsumsi rumah tangga adalah penopang besar kegiatan ekonomi Indonesia. Ketika jutaan keluarga mengurangi belanja, toko menjual lebih sedikit barang, usaha menahan produksi, lalu kebutuhan tenaga kerja ikut berkurang. Efeknya bergerak seperti roda yang kehilangan putaran.
Tanda penurunan daya beli bisa terlihat dalam kebiasaan harian:
- Pembelian elektronik, kendaraan, furnitur, atau pakaian ditunda.
- Konsumen pindah ke merek yang lebih murah dan ukuran kemasan lebih kecil.
- Penggunaan promo, paylater, kartu kredit, atau pinjaman meningkat untuk menutup kebutuhan rutin.
- Pengeluaran nonpokok, seperti makan di luar dan liburan, lebih dulu dipangkas.
Pendapatan Riil Menentukan Seberapa Jauh Uang Bisa Digunakan
Pendapatan riil adalah nilai pendapatan setelah memperhitungkan perubahan harga. Kenaikan gaji belum tentu membuat hidup lebih longgar apabila inflasi tumbuh lebih cepat daripada upah.
Bayangkan gaji naik 5 persen, dari Rp5 juta menjadi Rp5,25 juta. Pada saat yang sama, kebutuhan rutin naik 8 persen. Secara nominal pendapatan memang bertambah. Namun, secara riil kemampuan membeli kebutuhan justru turun.
Kondisi ini sering terasa pada pekerja dengan gaji tetap. Mereka tidak kehilangan pekerjaan, tetapi keranjang belanja semakin mahal. Kenaikan harga kecil pada banyak pos dapat menggerus anggaran lebih cepat daripada satu kenaikan harga besar.
Deflasi Tidak Selalu Berarti Kondisi Ekonomi Membaik
Harga yang turun tidak selalu menjadi kabar baik. Deflasi dapat muncul karena pasokan meningkat atau ada kebijakan diskon, tetapi juga bisa terjadi ketika masyarakat menahan belanja karena pendapatan dan keyakinan ekonominya melemah.
BPS mencatat deflasi 0,09 persen secara tahunan dan 0,48 persen secara bulanan pada Februari 2025. Angka itu antara lain dipengaruhi diskon tarif listrik. Karena itu, satu angka deflasi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa daya beli sedang kuat.
Jika toko memberi diskon tetapi pembeli tetap menunggu, masalahnya bisa terletak pada rasa aman terhadap penghasilan. Harga yang lebih rendah tidak banyak membantu bila rumah tangga sedang menjaga uang untuk biaya sekolah, cicilan, atau risiko kehilangan kerja.
Faktor Penyebab Turunnya Daya Beli Masyarakat
Faktor penyebab turunnya daya beli masyarakat jarang berdiri sendiri. Harga kebutuhan dapat naik saat pendapatan melambat. Pada saat bersamaan, cicilan menyita sebagian gaji dan ketidakpastian kerja membuat keluarga memilih menyimpan uang.
Inflasi dan Kenaikan Biaya Kebutuhan Pokok
Inflasi mengurangi nilai uang secara perlahan. Dampaknya paling cepat terasa pada pangan, ongkos transportasi, bahan bakar, gas, listrik, sewa rumah, biaya kesehatan, dan pendidikan.
Kenaikan harga energi atau bahan baku juga merambat ke barang lain. Produsen membayar biaya pengiriman dan produksi yang lebih tinggi. Sebagian biaya itu lalu masuk ke harga jual di warung, pasar, minimarket, atau toko daring.
Masalah membesar ketika upah tidak bergerak secepat biaya hidup. Keluarga berpendapatan rendah lebih rentan karena sebagian besar penghasilannya sudah habis untuk kebutuhan dasar. Mereka punya ruang yang tipis untuk menyesuaikan anggaran.
Inflasi tidak harus tinggi untuk terasa berat. Kenaikan kecil pada makanan, transportasi, dan tagihan bulanan dapat langsung mengubah keputusan belanja keluarga.
PHK, Lapangan Kerja Sempit, dan Pendapatan Tidak Pasti
Pemutusan hubungan kerja langsung memukul pendapatan rumah tangga. Bahkan sebelum PHK terjadi, kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan dapat membuat pekerja menunda belanja besar.
Pada awal 2025, data Kementerian Ketenagakerjaan yang dikutip sejumlah media menyebut hampir 14.000 pekerja formal kehilangan pekerjaan. Pelemahan di sektor manufaktur menjadi salah satu konteks yang disorot dalam periode tersebut.
Pencari kerja juga cenderung menghemat uang selama belum memperoleh pekerjaan baru. Sementara itu, pekerjaan informal seperti pekerja harian, pengemudi, pedagang kecil, atau pekerja lepas sering memiliki pendapatan yang berubah-ubah.
Pendapatan tidak tetap membuat perencanaan keuangan lebih sulit. Ada bulan ketika penghasilan cukup, tetapi bulan berikutnya belum tentu sama. Manfaat seperti THR, pesangon, jaminan kesehatan perusahaan, dan kepastian jam kerja pun tidak selalu tersedia.
Manufaktur Melemah dan Ketidakpastian Ekonomi Meningkat
Industri manufaktur punya hubungan langsung dengan pendapatan pekerja, pemasok, logistik, dan perdagangan. Saat pesanan turun, pabrik dapat mengurangi produksi, lembur, perekrutan, bahkan jumlah tenaga kerja.
Indeks PMI Manufaktur Indonesia yang berada di bawah angka 50 menunjukkan fase kontraksi. S&P Global mencatat PMI manufaktur Indonesia berada di level 49,2 pada Oktober 2024, dengan kontraksi berlangsung empat bulan berturut-turut.
Angka tersebut bukan vonis bahwa semua pabrik akan melakukan PHK. Namun, kontraksi dapat membuat perusahaan lebih berhati-hati. Mereka menahan investasi dan pembukaan lowongan baru.
Rumah tangga pun merespons ketidakpastian itu. Orang yang belum terkena PHK bisa memilih menunda membeli sepeda motor, ponsel, mesin cuci, atau rumah. Keputusan ini masuk akal bagi keluarga, tetapi konsumsi yang tertahan dapat memperlambat penjualan usaha.
Pajak, Subsidi, dan Pelemahan Nilai Rupiah
Kebijakan pajak dan subsidi memengaruhi uang yang tersisa setelah kebutuhan dasar dibayar. Pajak konsumsi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan harga barang atau jasa tertentu, sedangkan pengurangan subsidi dapat menaikkan biaya energi dan transportasi.
Kenaikan PPN menjadi 12 persen sempat memicu kekhawatiran akan tekanan konsumsi. Pemerintah kemudian menerapkan tarif 12 persen terutama untuk barang dan jasa mewah sejak 2025, sementara banyak transaksi umum tetap menggunakan skema yang membuat beban efektifnya setara 11 persen.
Meski begitu, kekhawatiran publik tidak muncul tanpa alasan. Bila pajak, inflasi, dan pendapatan yang stagnan terjadi bersamaan, belanja nonpokok biasanya lebih dulu dikurangi. Pelaku usaha juga dapat menghadapi penjualan yang lebih lambat.
Rupiah yang melemah menambah tekanan lain. Barang impor dan bahan baku berbasis impor menjadi lebih mahal. Produk dalam negeri yang memakai komponen impor pun dapat ikut menaikkan harga.
Cicilan, Utang, dan Kebocoran Keuangan Rumah Tangga
Tidak semua tekanan berasal dari harga pasar. KPR, kredit kendaraan, kartu kredit, pinjaman online, biaya administrasi, dan tagihan paylater adalah pengeluaran tetap yang harus dibayar sebelum uang dipakai untuk kebutuhan lain.
Masalah utamanya bukan hanya jumlah utang. Rasio cicilan terhadap pendapatan jauh lebih menentukan. Cicilan Rp1 juta akan terasa berbeda bagi orang bergaji Rp4 juta dan pekerja dengan pendapatan Rp12 juta.
Judi online juga dapat mengalihkan uang belanja rumah tangga ke pengeluaran yang tidak menghasilkan nilai ekonomi bagi keluarga. Di sisi lain, akses pinjaman online yang diperketat dapat mengubah pola konsumsi orang yang sebelumnya menutup kekurangan dengan utang.
Utang konsumtif sering memberi rasa lega sesaat. Namun, bunga dan denda dapat mengurangi daya beli pada bulan-bulan berikutnya.
Dampak Daya Beli yang Melemah bagi Ekonomi Sehari-hari
Ketika pendapatan terasa sempit, rumah tangga akan memprioritaskan makan, tempat tinggal, pendidikan, dan transportasi. Barang yang bisa ditunda akan menunggu lebih lama.
Rumah Tangga Mengubah Prioritas Belanja
Keluarga dapat memilih merek kebutuhan harian yang lebih murah, memasak di rumah, mengurangi makan di luar, atau memanfaatkan diskon. Pembelian laptop, televisi, kendaraan, dan perabot sering menjadi keputusan yang ditunda.
Kelompok berpendapatan rendah biasanya merasakan dampak lebih awal. Porsi pendapatan mereka untuk makanan dan kebutuhan pokok sudah besar. Kenaikan kecil pada harga beras atau ongkos angkutan bisa langsung memotong anggaran lain.
Kelas menengah juga tertekan jika biaya pendidikan, hunian, dan cicilan meningkat. Mereka mungkin masih dapat memenuhi kebutuhan, tetapi tabungan dan dana investasi menjadi korban pertama.
Pelaku Usaha Menghadapi Penjualan yang Menurun
Penjualan yang melambat membuat pelaku usaha mengurangi stok, jam kerja, belanja bahan baku, serta rencana membuka cabang. UMKM sering terkena lebih cepat karena modal dan cadangan kas mereka terbatas.
Dampaknya merambat ke pemasok, pekerja, kurir, pedagang pasar, hingga pemilik kios. Jika permintaan melemah cukup lama, usaha menahan rekrutmen atau menekan biaya tenaga kerja.
Di titik itu, lingkarannya menjadi berat. Pendapatan pekerja berkurang, konsumsi turun, lalu penjualan usaha kembali melemah. Karena itu, faktor penyebab turunnya daya beli masyarakat perlu ditangani sebelum tekanan menyebar lebih luas.
Apa yang Dapat Dilakukan untuk Memulihkan Daya Beli?
Pemulihan tidak cukup dengan bantuan sesaat. Harga kebutuhan dasar harus terjaga, sementara pendapatan dan kesempatan kerja perlu tumbuh.
Kebijakan yang Menjaga Harga dan Membuka Kerja
Pemerintah perlu menjaga pasokan pangan, distribusi energi, dan stabilitas harga di daerah. Bantuan sosial yang tepat sasaran dapat melindungi kelompok rentan ketika harga naik atau pekerjaan hilang.
Penciptaan pekerjaan formal perlu berjalan bersama dukungan untuk UMKM dan manufaktur. Pelatihan kerja harus terhubung dengan kebutuhan perusahaan, bukan sekadar mengejar jumlah peserta.
Kebijakan pajak dan subsidi juga perlu mempertimbangkan kemampuan kelas menengah serta kelompok berpenghasilan rendah. Evaluasinya harus memakai data inflasi, konsumsi rumah tangga, pengangguran, dan kualitas pekerjaan.
Langkah Rumah Tangga Menghadapi Tekanan Pengeluaran
Keluarga dapat memulai dengan mencatat kebutuhan pokok, cicilan, dan pengeluaran rutin. Langganan yang jarang dipakai, biaya administrasi, serta belanja impulsif perlu ditinjau tanpa mengorbankan kebutuhan penting.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Membuat anggaran bulanan dengan pos pangan, tempat tinggal, transportasi, dan dana darurat.
- Membandingkan harga serta membeli kebutuhan rutin saat promo yang benar-benar menghemat.
- Menghindari pinjaman berbiaya tinggi untuk membiayai konsumsi harian.
- Meningkatkan keterampilan atau mencari sumber penghasilan tambahan yang legal dan sesuai kemampuan.
Langkah pribadi tidak menggantikan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga ekonomi. Namun, pengelolaan uang yang lebih rapi dapat mengurangi risiko ketika pendapatan terganggu.
